Catat, Ini Dia 5 Cara Meminimalkan Risiko dalam Bisnis!

3 November 2022 Catat, Ini Dia 5 Cara Meminimalkan Risiko dalam Bisnis!

Sama seperti kehidupan, di mana tiap hari, tiap jam, dan tiap detik sebuah bisnis pasti akan mengalami risiko. Dalam kehidupan misalnya, untuk meminimalkan risiko tidak memiliki uang di hari tua, kamu akan berinvestasi. Di sisi bisnis, agar tidak rugi, kamu akan membuat perencanaan bisnis yang matang. Pertanyaannya, bagaimana cara meminimalkan risiko bisnis?

Untuk menjawab pertanyaan itu, simak selengkapnya tentang apa itu risiko bisnis dan cara meminimalkan risiko agar bisnismu tidak merugi melalui artikel berikut ini!

Baca juga: Apa itu Marketing dalam Bisnis?

Apa itu Risiko Bisnis dan Manajemen Risiko?

Secara fundamental, risiko bisnis adalah berbagai macam faktor yang mampu mengancam aktivitas bisnis dalam mencapai tujuan usaha atau yang membuat perusahaan kehilangan kemampuannya untuk mencapai tujuan tersebut.

Umumnya, terdapat dua faktor yang membantumu dalam mengidentifikasi risiko bisnis yaitu peril dan hazard. Peril adalah sumber potensi risiko. Sementara hazard adalah faktor yang memperburuk dampak dari risiko. Contoh, peril dalam risiko misalnya ketika harga BBM naik. Sedangkan hazardnya adalah menggunakan kendaraan yang boros bensin.

Nah, untuk meminimalkan risiko, sebuah bisnis biasanya memiliki kerangka kerja berupa manajemen risiko yaitu sebuah rangkaian aktivitas berupa analisis, perencanaan, eksekusi, hingga evaluasi untuk mengurangi risiko.

Cara meminimalkan risiko dalam bisnis tidak terlepas dari yang namanya manajemen risiko. Di setiap aktivitas perlu dilakukan secara runut agar risiko tersebut dapat ditanggulangi atau dicegah.

Jenis-Jenis Sumber Risiko Bisnis

Secara garis besar, sumber risiko memiliki dua jenis yaitu risiko internal dan eksternal. Sama seperti namanya, risiko internal adalah risiko yang berasal dari dalam organisasi atau bisnis. Contoh, risiko karyawan yang memanipulasi catatan pengeluaran perusahaan.

Sumber kedua adalah risiko eksternal di mana sumber risiko berasal dari luar organisasi atau bisnis. Misalnya, pandemi, bencana alam, atau pesaing. Dari kedua jenis sumber tadi, secara lebih spesifik, Will Kenton, seorang praktisi ekonomi asal Amerika Serikat membagi lagi ke dalam beberapa jenis sumber risiko yaitu sebagai berikut:

1. Risiko Strategis

Risiko strategis adalah ketika perusahaan tidak bisa menjalankan perencanaan atau langkah strategis yang dibuat dalam menjalankan sebuah bisnis. Risiko strategis biasanya meliputi risiko SDM, risiko sosial dan budaya, risiko ekonomi, dan risiko persaingan usaha.

Contoh risiko SDM misalnya sulit mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kriteria yang mampu membantu perusahaan mencapai tujuannya. Risiko sosial dan budaya contohnya pola konsumsi masyarakat yang berubah, sedangkan risiko ekonomi misalnya adanya inflasi atau daya beli masyarakat yang menurun.

2. Risiko Kepatuhan atau Hukum

Dalam menjalankan usaha, hukum adalah sesuatu yang harus dipatuhi. Misalnya pajak, aturan batas produksi, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan hukum. Contohnya, pembatasan pembangunan di area tertentu, kenaikan pajak, atau risiko kesehatan yang mengakibatkan adanya tuntutan.

3. Risiko Operasional

Risiko operasional adalah risiko yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari atau operasional sebuah bisnis. Perbedaanya dengan risiko strategis, risiko operasional lebih kepada hal-hal praktis yang langsung mempengaruhi aktivitas bisnis.

Contohnya risiko bencana alam seperti banjir dan gempa. Kemudian risiko politik misalnya perang, lalu risiko ketidakpastian misalnya pandemi, kecelakaan kerja, atau musibah lainnya, kemudian ada juga risiko keuangan misalnya karyawan melakukan penggelapan, dan lain sebagainya.

Baca juga: Ini 7 Manfaat Analisis SWOT untuk Pengembangan Usahamu

6 Cara Meminimalkan Risiko dalam Bisnis

Lantas, bagaimana cara meminimalkan risiko dalam bisnis? Dalam ilmu manajemen, ada 5 cara meminimalkan risiko dalam bisnis. Di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Penghindaran Risiko atau Risk Avoidance

Cara meminimalkan risiko dalam bisnis adalah dengan risk avoidance yaitu risikonya belum ada dan sebisa mungkin agar risiko tersebut tidak jatuh ke dalam bisnis yang sedang dijalankan. Umumnya, di sini kamu membuat pilihan strategis yang tidak menimbulkan risiko.

Contoh dari risk avoidance adalah ketika kamu memilih menyewa ruko dibanding membeli ruko untuk toko baju. Hal ini dilakukan agar modal masih dapat diukur dan tidak habis hanya untuk urusan ruko.

2. Mengurangi Risiko atau Risk Reduction

Berbeda dengan risk avoidance tadi, risk reduction adalah pendekatan sesungguhnya dari cara meminimalkan risiko dalam bisnis. Risikonya pasti ada, tapi bagaimana caranya mengurangi risiko yang akan terjadi.

Contohnya memasang alat keamanan pada ruang kerja, memasang perangkat lunak anti-pencurian di sistem komputer, atau menyewa satpam. Contoh lainnya yang berkaitan dengan bisnis misalnya, penggunaan aplikasi chatbot untuk mengurangi risiko jumlah pesanan toko yang tinggi.

Baca juga: Cara Mudah Optimalkan SMS Marketing yang Menarik Konsumen

3. Segregasi Risiko atau Risk Spreading

Segregasi risiko adalah memisahkan atau membagi hal-hal yang bisa menyebabkan suatu risiko. Biasanya risiko muncul akibat dari dua hal yang berbeda namun saling berkaitan.

Misalnya memecah data ke dalam ruang arsip yang berbeda atau membagi data ke sistem konvensional dan sistem digital. Contoh lainnya yaitu ketika ada potensi karyawan yang berpotensi melakukan kecurangan, kamu bisa membaginya ke divisi yang berbeda.

4. Pengalihan Risiko atau Risk Transfer

Pengalihan risiko atau transfer risiko adalah mengalihkan potensi risiko kepada pihak lain yang bersedia menanggung risiko tersebut. Biasanya perusahaan yang akan mentransfer risikonya melakukan kontrak dengan penerima risiko.

Contoh transfer risiko adalah adanya Jaminan Kecelakaan Kerja yang dimiliki oleh BPJS Ketenagakerjaan (BPJS-TK), di mana BPJS-TK melakukan kontrak bersama perusahaan untuk mengelola dana jaminan kecelakaan kerja bagi karyawan.

5. Risk Retention atau Menerima Risiko

Cara meminimalkan risiko dalam bisnis selanjutnya adalah risk retention, di mana organisasi atau bisnis menghadapi risiko secara langsung. Biasanya, hal ini dilakukan apabila perusahaan masih bisa melakukan aktivitas bisnis ketika risiko tersebut ada atau sebaliknya, risiko tersebut malah membuat bisnis menjadi untung.

Risk retention juga dilakukan apabila risiko yang terjadi ketika kamu tidak memiliki pemecahan masalah dan memang sudah menjadi debu dalam bisnis, di imana kehadirannya hanyalah sesuatu yang wajar.

Contohnya adalah ketika pandemi. Beberapa perusahaan menganggap pandemi malah menjadi peluang baru bagi bisnis yang menguntungkan. Contohnya, perusahaan event organizer menjadi memiliki turunan produk event digital akibat pandemi.

6. Membagi Risiko atau Risk Sharing

Berbeda dengan risk transfer, risk sharing adalah dengan membagi risiko kepada pihak lain. Jadi, baik perusahaan maupun pihak lainnya sama-sama menanggung beban risiko. Contohnya saat perusahaan meminta bantuan jasa konsultasi bisnis.

Baca juga: Whatsapp Customer Service: Definisi, Fitur, dan Manfaatnya

Nah, 6 cara di atas ini merupakan bagian poin-poin strategis dalam meminimalkan risiko pada bisnis. Namun secara praktis, cara untuk meminimalkan risiko bisnis adalah dengan melibatkan pihak ketiga di samping proses analisis internal seperti analisis SWOT, melakukan PDCA atau Plan-Do-Check-Action, mengidentifikasi risiko pada setiap aktivitas bisnis mulai dari bagian penjualan, produksi, maupun administrasi.

Melibatkan pihak ketiga yang dimaksud bisa bermacam-macam salah satunya dengan memanfaatkan tools yang disediakan oleh pihak ketiga. Seperti yang disinggung pada poin sebelumnya, misal kamu memiliki risiko untuk menghadapi pelanggan yang membludak, mengandalkan aplikasi chatbot bisa jadi langkah untuk mengurangi risiko.

Apabila risiko terbesar saat ini memang ada pada interaksi pelanggan, kamu bisa menggunakan Kokatto sebagai mitra yang membantumu mengatasi resiko tersebut. Kokatto adalah aplikasi layanan komunikasi bisnis di mana kamu bisa mendapatkan layanan berupa aplikasi chatbot Whatsapp, SMS dan email blast, dan Interactive Voice Recorder.

Dengan Kokatto, kamu bisa mempermudah berbagai kendala yang menjadi tembok besar antara kamu dengan konsumen. Sehingga kamu bisa lebih mudah melakukan komunikasi atau layanan kepada konsumen dengan cepat. Yuk, minimalkan risiko bisnismu dengan menggunakan Kokatto!

whatsapp facebook instagram
KokattoLogo Jakarta Metropolitan Tower 10th floor Jl. TB Simatupang No.Kav. 14, DKI Jakarta - 12430 +6221 3972 3972 | sales@kokatto.com
IG
Youtube
LinkedIn
ISO certificate META Partner badge
Copyright © 2023 by Kokatto. All Rights Reserved